Bismillaah
---Assalamu'alaykum, Dedek Bayi---
"Maaas, jam berapa pulangnya? Nanti kesorean loh, ke Dokternya. Cepetan pulang ya, Maaas?" Dengan manja, Puri menelepon Tsun. Tadi pagi, mereka sudah membuat janji untuk pergi ke Dokter memeriksakan kehamilan Puri. Sebenarnya, sudah dari kemarin Tsun ingin mengantarkannya ke Dokter, hanya saja waktunya belum matching. Nah, hari ini, Tsun agak longgar. Semoga pekerjaan bisa selesai sebelum jam empat sore.
"Iya, Dik. Sebentar lagi Mas pulang. Nyeleseiin ngolah data sebentar. Kamu udah cipung, Dik? Cipung dulu gih. Nanti, Mas sampe rumah terus berangkat. Gimana?"
"Ohhh, Puri sudah cantiiik dong, Mas. Sudah siap pokoknya. Puri tunggu ya, Mas? Tidak boleh lama-lama loh, Mas. Oke, okeee?" Puri merajuk seperti biasa. Di seberang sana, Tsun tergelak. Kalau Puri sedang ceria begini, rasanya hidupnya sungguh indah. Hingga lelah dan letih pun sirna dari raganya. Alhamdulillaah. Tapi, kalau Puri sedang rewel, Tsun harus ekstra sabar menghadainya. Sedari dulu, Tsun memang pribadi yang baik, tulus dan sabar. Jadi, tidak sulit menghadapi setiap sikap manja, merajuk dan rewel Puri.
***
"Alhamdulillaah. Selamat ya, Bapak, Ibu. Sebentar lagi Anda akan menjadi Ayah dan Bunda. Semoga sehat ibu dan bayinya. Ini test pack-nya. Ini yang tadi dibawa Ibu dari rumah. Sekarang, saya periksa dulu ya? Nanti, setelah diperiksa, saya buatkan Kartu Kesehatan Kehamilannya. Mari Ibu, silakan. Bapak, mohon bersabar menunggu di sini ya?" Ungkap Dokter Hidayah panjang lebar. "Oh iya, Bapak. Sambil menunggu, silakan dilengkapi biodata Bapak dan Ibu di lembar ini, ya?" Tambahnya. Ramah.
Jauh di lubuk hatinya, Tsun sangat bersyukur. Sangat bahagia. Betapa ini adalah anugerah terindah. Semoga Allaah selalu menjaga. Aamiin.
Puri melonjak-lonjak gembira, dalam hati. Terlebih, saat layar monitor menunjukkan adanya janin mungil dan sehat di rahimnya. Hatinya berbunga-bunga. Mesra, jantungnya mendegupkan cinta.
"Ini, janinnya, Bu. Usianya enam minggu. Sehat. Warnanya merah segar. In syaa Allaah, Hari Perkiraan Lahirnya akan jatuh pada tanggal 1 Mei 2016. Semoga sehat ya, Bu?"
"Iya, Dokter. Bismillaah. Jazakillaah khayra,"
"Waiyyaki, Bu. Oh ya, apa yang Ibu rasakan sekarang? Mual, muntah, pusing?"
"Iya, Dokter. Ditambah kalau malam hari sampai menjelang Shubuh itu selalu menggigil. Rasanya dingin sekali. Oh, iya, dokter. Saya kan waktu nikah sedang haid. Terus setelah itu tidak haid lagi. Dan tahu-tahu, saya merasa aneh. Mual, muntah-muntah, sering sekali. Pusing juga. Nah, saya disarankan Mama untuk mengetes kehamilan. Terus saya tes sungguhan. Nah, positif. Yang saya tanyakan, Dokter. Kok bisa ya?"
Dokter tersenyum simpul. Memahami apa yang dimaksud Puri. Lalu, dengan ramah dan sabar memberikan penjelasan tentang haid terakhir, pembuahan ovum dan kehamilan.
***
Sesampainya di rumah, Tsun mengajak Puri duduk di teras. Tsun duduk bersimpuh di hadapan Puri. Sampai Puri terkejut. Hatinya berdebar-debar, melihat Tsun menangis. Takut, jangan-jangan sudah menyinggung atau menyakiti perasaannya.
"Assalamu'alaykum, Dedek Bayi. Baik-baik ya, di perut Ummi. Abi mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu," Tsun terbata-bata di sela isak tangisnya. Mengusap-usap perut Puri, mesra.
Lega! Itu yang dirasakan Puri. Alhamdulillaah, ternyata itu tangis bahagia Mas. Pikirnya. "'Alaykumussalam, Abi. Iya, Abi. Bismillaah. Dedek bbayi juga sayang Abi. Sayang Ummi ...,"
---#---
Belum ada tanggapan untuk "Serial: Jannah Family"
Posting Komentar