Bismillaah
Hening. Pagi ini berbeda. Sunyi, seolah tengah berada di kedalaman goa perawan di tengah hutan. Seorang diri. Aku bergeming di depan lemari kaca yang memantulkan bayanganku dengan sempurna.
Gadis dengan stelan gamis merah tulip dan kerudung berbunga-bunga tulip kecil-kecil itu terlihat sedang merenung. Memikirkan sesuatu, mungkin. Wajahnya pucat dan bibirnya kering. Sorot matanya menunjukkan betapa ia tengah dilanda gundah yang mendalam.
Muncul satu bayangan mendekatinya. Ibunya. Berdiri di samping kursi rodanya, lalu pindah ke belakang dan merangkulnya erat. Hangat. Senyum yang mengandung ketulusan cinta dan kasih sayang. Senyum suci dan tulus yang terlahir dari rahim hatinya.
Gadis itu merunduk, menyeka buliran air mata yang membasahi wajahnya. "Mama, Okino tidak sanggup. Tolong sampaikan ke Mas, Okino ikhlas, jika Mas ingin menikah bersama yang lain. Semoga mendapatkan yang lebih baik dari pada Okino. Okino sadar diri, Mama. Bagaimana keadaan Okino sekarang ini. Okino paham, Mama. Okino ...,"
"Sssttt, Honey. Sssttt! Sudah, sudah. Masmu ndak seperti itu. Kalian akan tetap menikah."
"Tapi Mama, Okino tidak akan bisa membahagiakan Mas. Okino ummm, eng, ummm ...,"
"Honey? Percaya sama Mama. Masmu ndak akan melihatmu dari sisi itu saja. Masmu melihatmu dari banyak sisi yang lain. Sisi yang ndak dimiliki wanita lain. Jadi, kenapa Honey mempermasalahkan itu? Apa Honey mau mengorbankan cinta suci kalian? Honey mau mengorbankan perjuangan Masmu? Perjuanganmu? Honey, jangan gitu. Istighfar. Ishbir."
Aku diam. Bungkam. Banyak kata bergumul di benakku. Namun, tak sepatah pun terucap dari mulutku. 'Maafkan aku, Mas. Sesungguhnya dan sejujurnya, I love you so much. Fillaah.' Bisik hatiku.
Gadis itu merunduk semakin dalam. Hanyut dalam lautan dzikir. Allaah, Allaah, Allaah.
---#---
Belum ada tanggapan untuk "Mas ... Maafkan Aku"
Posting Komentar