Sebutir Asa

in-charged.jpg

Bismillaah

Sebutir Asa

A story by Sakura Sizuoka

Aku takut. Jujur, aku takut sekali. Membayangkan brankarku didorong menuju ruang operasi, lalu Mama berlari-lari kecil mengikuti di belakang dengan air mata berderai. Di depan ruang operasi, Mama menciumiku dengan segenap restu dan cintanya. Setelah itu, brankarku di dorong masuk dan kudengar Mama menjerit-jerit di luar. Ah, aku tidak sanggup! Aku tidak akan bisa melalui masa itu. Itu menakutkan. Menyedihkan!

Aku rapuh. Luruh. Semangatku yang tadinya mengangkasa raya, tiba-tiba meleleh. Persis seperti gunungan salju yang terbakar matahari. Mencair. Bagaimana tidak? Membayangkan bagaimana mencekamnya ruang operasi dengan semua peralatan yang ada di sana. Wajah-wajah panik dan tegang! Jarum infus yang tentu menyakitkan, jarum anestesi dan selang oksigen yang selalu mensugesti rasa pengap padaku. Ah!

Rasanya aku sama sekali tidak punya kekuatan untuk menjalani semua itu. Aku semakin luruh. Runtuh!

Membayangkan tubuhku terkulai. Tidak sadarkan diri. Lalu, pisau-pisau tajam membelah dadaku. Tim Dokter akan menemukan area klep jantung aortaku. Membedahnya, menyambungnya lagi dan menjahit dadaku lagi. Ah! Bagaimana darahku membuncah? Membanjir kah? Allaah, Allaah, Allaah.

Sampai di sini, kupejamkan mata. Sungguh, aku takut! Yaa Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut yang begitu kuat mencengkeram diriku ini.

Jika operasi itu berhasil, aku akan punya satu kesempatan untuk bernapas kembali. Menghirup udara segar, melihat matahari, memandangi langit malam ... Makan es krim sambil membaca Love, star Girl-nya Jerry Spinelli. Makan keripik kentang sambil menulis. Bermain ayunan karet, trampolin, berenang, bersepeda. Dan, yang jelas, Mas akan menikahiku. Maksudku, Mas akan mengkhitbah dan menikahiku. Kami akan menikah. Membangun Jannah Family. Rumah Surga.

Aku tersenyum kecut. Pahit dan getir ikut memberikan essens-nya. Bergeming aku dalam pasrah. Mama sedang berbincang dengan Om dokter. Berunding, tepatnya. Prosentase kegagalan dan keberhasilan dan semuanya. Mereka berbicara sangat serius. Sementara aku, pendengaranku memang masih berfungsi. Aku mendengar semua itu. Namun, sepatah kata pun tak sanggup untuk kuucapkan. Jujur, ingin sekali kuraba hidungku. Aku yakin, selang oksigen terpasang di sana. Ingin kuraba punggung tangan kiriku, itu, yang nyeri itu pasti efek dari jarum infus. Dan itu, suara tut, tut, tut itu pasti monitor jantungku. Ah! Rabb ....

"Baiklah, Dokter. Bismillaah, saya setuju!" Ucap Mama mantap. Bisa kubayangkan, bagaimana ekspresi Mama saat mengucapkan itu. Pasti dengan wajah yang penuh dengan bunga-bunga harapan berseri-seri.

"Baik, Bu. Segera kita tangani. Kita akan memerlukan waktu antara sepuluh sampai dua belas jam," kata Om Dokter. What? Selama itu ya? Yaa Rabb. Bagaimana kalau aku ...?

***

Benar, brankarku di dorong. Aku merasakannya. Lorong yang panjang. Gelap. Ah, aku mulai ill feel. Dalam keadaan seperti ini saja, feeling tetap mendominasi.

Laahaula walaaquwwata illa billaahil'aliyyil'adhiim. Rabb, aku pasrah. Dengan-Mu aku hidup dan dengan-Mu aku mati.

---#---

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sebutir Asa"

Posting Komentar