(Lukisan) Hati Semerah Darah

Bismillaah

(Lukisan) Hati Semerah Darah

A story by Sakura Sizuoka

Oca mengemasi bulir-bulir bening air matanya. Didengarnya Mama mengetuk pintu kamar. Diliriknya jam weker berbentuk kincir angin di atas meja, jam sembilan tepat. Itu artinya, sudah waktunya minum obat. Oca mendesah. Mengusap-usap wajahnya, memastikan tak ada lagi teteas air mata tersisa di sana. Mama tidak boleh tahu kalau ia menangis. Mama tidak boleh tahu kalau ia bersedih. Semenganga apa pun luka di dalam dadanya, Mama tidak boleh tahu. Tidak boleh! Oca tidak ingin membuat Mama bersedih. Jadi, lebih baik dirasainya sendiri. Ditahan dan disimpannya sendiri semua pedih, sakit dan luka itu di dasar hatinya.

"Mas tahu? Mas tidak hanya menyakiti Oca. Tapi Mas, sudah meremukkan hati Oca hingga menjadi serpihan ...," bisiknya lirih sambil menatapi lukisan hati berwarna merah di hadapannya. Semerah darah. "Tapi, Oca tidak apa-apa. Allaah Maha Adil kan, Mas? Allaah tidak akan tinggal diam," tambahnya dan segera memutar handle kursi rodanya. Diputarnya ke arah pintu. Mama pasti sudah menunggunya di sana.

"Honey? Are you O.K?" Suara Mama terdengar sangat khawatir.

"Ya, Mama. Oca is O.K. Wait for a minute, Mama," jawabnya seceria mungkin. Ditekannya segala perasaan remuk yang berkecamuk di dalam batinnya. Sekuat mungkin. Menghela napasa panjang. Dan, sampailah ia di depan pintu.

"Honeeey?" Mama semakin terdengar khawatir. Ah, Mama tidak penah bisa dibohongi. Sekecil apa pun hal disembunyikan Oca, Mama pasti tahu. Ma sya Allaah.

Oca membuka pintu, perlahan. "Mama, Oca is O.K. Oca kelaparan, Mama. Oca mau makan. Mama sudah makan? Dedek?"

"Oh, syukurlah Honey baik-baik saja. Ini, Honey makan dulu ya?" Kata Mama, sembari masuk ke kamar dan meletakkan nampan di atas meja. Di atas nampan itu, ada menu makan pagi Oca dan obat. Tiga macam obat yang harus diminum rutin setiap pagi. Itu, sebagai ikhtiar untuk kesembuhan Oca. Jadi, harus sabar dan telaten meminumnya.

"Oke, Mama. Terima kasih," jawabnya tetap dengan nada ceria. Diikutinya Mama dengan menjalankan kuris rodanya. Perlahan.

Mama tertawa kecil, melihat semangat Oca yang luar biasa pagi ini. "Alhamdulillaah, Honey terlihat lebih segar hari ini. Syafakillaah, Sayang," ucap Mama lembut, nyaris berbisik. Ditatapnya mata Oca dalam. Lembut dan dalam. Seolah menembus ke dasar batinnya. Oca menunduk. Refleks. Seolah ingin menyembunyikan segala serpihan perasaannya. Namun, segera ia mengangguk, meyakinkan dirinya sendiri dan Mama bahwa dia akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja.

Mama mengusap kepalanya lembut. Penuh cinta. "Honey? Mama mengerti apa yang Honey rasakan. Tapi, Mama yakin, Honey sanggup dan kuat untuk menjalani semua ini. Menerima dan menjalani semua ini dengan sabar. Kuat!"

"Ya, Mama. In syaa Allaah," ucap Oca memaksa diri berbicara, meski sesungguhnya ingin sekali membungkam mulutnya. Bungkam!

Mama mengecup kening Oca lembut. Penuh kasih. Mama hanya punya dua sikap terhadap Oca. Lembut, penuh cinta dan kasih sayang. Hanya itu. Bahkan, sejak Oca masih bayi. "Oh ya, Honey, lukisan Honey sudah selesai? Mama pingin lihat,"

"Su, su, su-dah- emmmm, ya, sudah, Mama" Oca gugup. Kelu lidahnya, seolah tak sanggup berucap. Mama terdiam. Menelisik jauh ke dalam dasar batin Oca. Ada apa? Tanya hati Mama.

"Oooh, bagus, Honey. Ini lukisan yang luar biasa!" Mama mengacungkan dua jempol dengan tawa lebar. Senyum tulus dan mendamaikan jiwa, melengkung di wajah senjanya.

Jauh di lubuk hatinya, Mama berdoa; "Ya Allaah, hanya Engkau Yang Paham, apa yang tengah terjadi pada anak hamba. Mohon ya Allaah, berikanlah kemudahan dan kekuatan baginya untuk bisa menerima dan menghadapi semua kehendak-Mu. Termasuk dalam hal ini, jika Jibal tidak bisa melanjutkan cinta dan cita-cita mereka. Lukisan ini, menggambarkan betapa hancurnya perasaan anak hamba. Ya Allaah, hamba pasrah." Tak terasa air mata Mama berjatuhan. Isaknya terdengar pilu oleh Oca.

Oca memutar handle kursi rodanya mendekati Mama. "Mama, don't be sad. Don't be cry. I'm so sorry ...,"

Kedua ibu dan anak itu berpelukan. Berbagi rasa. Saling menguatkan. Allaah, Allaah, Allaah.

---#---

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "(Lukisan) Hati Semerah Darah"

  1. Ceritanya bagus sekali :-)

    http://wahyudinay.heck.in/fenomena-blogger-mwb.xhtml

    BalasHapus
  2. @Wahyudi nay,
    Terima kasih, :)

    Bismillaah

    BalasHapus