Serial: Jannah Family

Bismillaah

---Yuan Aulia Chandra Kirani---

Pagi baru saja mengucap salam. Matahari bersinar terang benderang. Wajahnya sebundar tampah. Sinarnya yang keemasan memancar lembut, memangkas pepucuk daun. Puri mendekap Yuan dengan sepenuh kasih. Mengajaknya berjemur di pagi hari, sangat bagus untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Yuan Aulia Chandra Kirani. Begitulah nama lengkap Anak Cinta-nya bersama Tsun. Kini, bayi cantik, lucu dan menggemaskan itu sudah berusia sembilan hari. Kepalanya pelontos, karena dua hari lalu baru saja dicukur dalam acara aqiqahnya. Bismillaah, semoga menjadi hamba Allaah yang bertaqwa. Aamiin.

"Eaaa, oaaa, eaaa," suara tangisannya terdengar lucu, membahagiakan.

"Iyaaa, Sayang. Anak shalihah Ummi. Sudah panas ya? Panas? Yuuuk, sudah dulu ya, berjemurnya?" Puri menepuk-nepuk lembut penuh sayang pantatnya. "Oooh, Yuan haus? Mau nenen ya? Yuuuk, masuk dulu. Nanti nenen di kamar." Tambahnya sabar. Inilah keajaiban Anak Cinta. Kehadirannya mampu memberi daya cinta kasih sayang yang luar biasa bagi Puri. Mampu merubah pribadinya yang manja dan kekanakan menjadi pribadi yang dewasa dan sabar. Betapa nikmat Allaah yang luar biasa!

"Eeeaaa, oaaa, eaaa," tangis Yuan semakin pecah. Mungkin memang kehausan. Tsun yang sedari tadi sibuk mencuci pakaian, langsung menghambur ke luar. Mendekati Puri dan Yuan di halaman depan.

"Kenapa, Dik?" Tanyanya panik. Itulah keajaiban Anak Cinta yang lain. Kehadirannya mampu memberi daya cinta yang luar biasa pula pada Tsun. Mampu menambahkan keindahan pada pribadi Tsun. Pribadi yang tadinya selalu tenang, kini menjadi mudah panik, terutama saat Yuan menangis keras dan agak lama. Seperti sekarang ini. Hehe. Itu sih perubahan yang membingungkan ya? Sering kali Puri mengolok-oloknya, "Yeee, itu sekarang Mas jadi mudah panik?" Kalau sudah begitu, Tsun hanya bisa mencuil pucuk hidungnya. Gemas.

"Sudah haus mungkin, Mas. Mataharinya juga sudah agak tinggi. Jam berapa sih, Mas?"

"Jam delapan, Dik. Iyaaah, udah aja berjemurnya. Kasihan Yuan, Dik." Tsun mengambil alih Yuan dari gendongan Puri. "Sini, Yuan sama Abi. Panas ya, Sayang? Haus ya? Oooh, nggak apa-apa. Kan biar sehat, oke?"

"Eeeaaaa, oooaaa, eeeaaa!" Yuan semakin keras menangis, Tsun menjadi gugup dan mempercepat langkah menuju rumah. Puri mengikuti di belakang. Hatinya berbunga-bunga. Menjelma taman dengan mekaran bunga penuh warna. Syukur di hatinya kian besar. Alhamdulillaah.

Yaa Rabb, mohon, jagalah Mas, Yuan dan aku dalam naungan kasih sayang-Mu. Dekap kami, peluk kami, Rabb. Erat, hangat. Jangan pernah lepaskan. Jangan pernah, Rabb. Tanpa Engkau, kami takkan pernah menjadi seperti ini. Bisik hatinya, syahdu. Tak terasa, air mata haru bercampur bahagia, berjatuhan dari soca beningnya.

"Ummi, Yuan mau nenen," suara Tsun mengejutkannya. Membuyarkan bisik cintanya pada Rabb.

"Oh, eh, iya, Sayang. Sebentar, ya?"

"Kamu, nangis, Dik?" Tsun bingung. Dahinya mengerenyit. Sementara Yuan menangis manja dalam pelukannya.

"Tidak, Mas. Puri bahagia ...,"

Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah. Melanjutkan perjalanan menuju ridha rabb.

---#---

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Serial: Jannah Family"

Posting Komentar