Di Kanal Bening Sleedorntuin (Pagi Tadi)

Bismillaah

"Assalamu'alaykum, Sleedorntuin dan assalamu'alaykum, Kanal Bening. Allaahu Akbar. Sungguh, bahagia tiada terkira Allaah masih memberikan hidup pada diri ini. Betapa waktu yang sangat berharga, di mana, raga yang rapuh ini masih bisa menatapi wajah ayumu. Beningnya aliranmu. Lihatlah, kelokannya kemilau oleh sinar mentari! Aku, sangat bersyukur. Masih diberikan masa indah, berpelukan dengan udara sejuk pagi ini. Bersama cericip waterkip dan bayi-bayi burung. Riuh! Semi. Ya, semi. Aku merasa menjadi tumbuhan yang bersemi kembali, setalah tadinya layu ...," bisikku pada mereka. Mereka, yang Allaah takdirkan bersamaku tadi pagi. Pagi yang berbeda.

Berbeda ... Aku semakin akrab dan bersahabat dengan diriku sendiri. Aku semakin berdamai dengan kursi roda. Dan aku semakin menyadari, memahami, bahwa klep jantung ini bukan milikku. Tetapi, milik Allaah. Dan, karena ini milik Allaah, maka adalah hak Allaah menjadikannya putus dan bocor. Adalah hak Allaah menjadikannya dioperasi. Adalah hak Allaah menjadikannya lemah dan terbatas. Hak Allaah, seutuhnya. Mutlak!

Dan, adalah hak Allaah, menjadikanku ditopang oleh kursi roda ini. Dan ini adalah indah. Ini, indah!

Berapa lama aku ditopangnya? Baru dalam hitungan hari, hitungan minggu. Hitungan bulan. Sementara, selama hampir delapan belas tahun ... Aku bebas bergerak! Berlarian ke sana ke mari. Berjalan-jalan. Bersepeda. Bermain bola basket, taekwondo, berenang, flying fox. Aku bebas!

Allaah, Allaah, Allaah.

Astaghfirullaahaladhiim.

"Aku ikhlas. Jika dengan ini, Allaah meridhai hidupku, aku ikhlas. Dan jika ini adalah jalan-Nya untuk mencintaiku, aku ikhlas. Bismillaah." Bisikku lagi. Dan ini lebih keras. Tegas. Kuremas pegangan kursi rodaku, kuat-kuat. Mencengkeramnya dengan segala harapan yang tinggi menjulang.

Allaah menguatkanku!

Allaahu Akbar.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Di Kanal Bening Sleedorntuin (Pagi Tadi)"

Posting Komentar