Bismillaah
Mas, awalnya kepikiran dan sekarang memikirkan. Kasihan Bapak dong, Mas kalau Mas seperti itu! Masa sih, Mas tidak berpikir ke sana? Kasihan Simbok juga kan? Ya Allaah, Mas, Mas.
Ada apa di balik semua ini, Mas?
Kenapa semua malah menjadi seperti parutan kelapa seperti ini? Sakit lho Mas, diparut itu. Sungguh! Jangankan diparut, keparut sedikti saja sakit. Panas. Perih. Okinohara pernah keparut pas di rumah Eyang. Waktu itu membantu Mbak Wit eeeh tepatnya penasaran dengan parut dan mencoa memarut eeeh kena!
Dan sungguh!
Sakit sekali rasanya. Panas, perih berhari-hari.
Sebentar, Mas.
Okinohara juga masih menggelar, menggulung kok semua kejadian ini. Tidak langsung menghakimi begitu saja. Lagian, Okinohara kan bukan hakim. Yang Berhak Menghakimi itu hanya Allaah. Iya kan, Mas?
Ummm ... Jujur, marahnya Okinohara sudah habis.
Waktu nulis ini saja sudah dengan gerakan jemari yang lemah gemulai, lembut mempesona eeeh maksudnya sudah tidak dengan amarah dan kecewa!
Semoga apa pun yang terjadi nanti, Bapak, Mas dan keluarga semuanya baik-baik saja. Begitu saja sih, Mas. Okinohara tidak akan mengganggu Mas. Silakan kalau mau menepi dengan 10 Juz seperti yang Mas sampaikan dulu. Okinohara, sekuat mungkin tetap berprasangka baik sama Mas.
Tidak apa-apa.
Semoga Allaah kasih waktu-Nya ke kita untuk tabayyun.
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan hari ini, Mas. Semoga barakah.
Kalau telepon Bapak, tolong sampaikan salam Okinohara ....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Belum ada tanggapan untuk "Kasihan Bapak"
Posting Komentar