Kang Adun

Bismillaah

Kepada Kang Adun, Pelangi Senjaku
Di Indonesia

Assalamu'alaykum, Kang

Apa kabar Kang Adun hari ini?
Sudah tengah hari ya di Indonesia?
Di sini, masih pagi, Kang
Namun, matahari sudah menyiramkan cercah-cercah sinar hangatnya
Musim panas, Kang
Jadi, mataharinya hadir lebih pagi
Musim apa di Indonesia?

Semoga, Allaah Ta'ala senantiasa menaungi Kang Adun dengan cinta dan kasih sayang-Nya. Aamiin.

Ramadhan sudah hampir berlalu ... Padahal, baru kemarin rasanya, semua ummat Islam saling mengirimkan ucapan Selamat Menjalankan Ibadah Ramadhan. Baarakallaahu fiik. Eeeh, tidak tahunya sekarang tinggal sepuluh hari lagi.

Sedih dan bahagia bercampur menjadi satu, dipadu dengan keharuan yang membiru menghiasi persemayaman hati. Hari Fitri, sebentar lagi. Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba yang diridhai ya, Kang? Aamiin.

Kang, sejujurnya Ra ingin menyampaikan sesuatu pada Kang Adun. Sesuatu yang Ra tidak mengerti sama sekali, mengapa ia begitu membuncah di hati ini, Kang. Entahlah, ia mirip pelangi senja hari seusai gerimis. Masya Allah, indah sekali!

Namun, terkadang ia menjelma degupan kencang yang menyesakkan dada. Mirip bedug di Masjid yang ditabuh bertalu-talu. Sungguh, Kang.


Dan, Kang Adun tahu?
Rasa itu mulai lahir dari rahim hati Ra ... Sejak saat itu!
Semoga Kang adun tidak lupa.
Saat kita chatting pertama kali di inbox dan WA.
Yaaah, sejujurnya, Ra sangat malu untuk menuliskan kejujuran hati ini.
Namun, Ra tak sanggup memendam semuanya terlalu lama, Kang.

Saat ini, Ra tak berdaya dan hanya bisa berdoa, semoga Kang Adun pun memiliki rasa yang sama dengan yang Ra lahirkan. Aamiin.

Matahari semakin benderang menyinari Leiden, Kang.
Ra harus bersiap ke kebun bunga di belakang rumah. Menyirami mereka, rasanya luar biasa!

Terima kasih, Kang Adun.
Maaf, jika ada kata yang tak berkenan di hati Kakang.

Assalamu'alaykum

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kang Adun"

Posting Komentar