Dear Diajeng,

Bismillaah

Dear Diajeng,

Assalamu'alaykum, Diajeng Di Negeri Kincir Angin

Sungguh, rindu ini sudah mirip ice cream corn, meleleh dan merembes ke dalam pori-pori roti kerucutnya! Tidak kah kau mengerti, Diajeng? Sebentar lagi, seluruh jiwa dan raga roti kerucut ini, akan terendam oleh lelehannya Oh, sungguh! Rasanya, tak tertahankan lagi, membludak mirip lelehan bongakh-bongkah es yang tertimpa sinar matahari di awal musim panas

Diajeng, itu tadi eligi rindu yang dibacakan oleh pembuluh rinduku, untukmu! Namun, kutepati janjiku, untuk tidak membiarkannya menguap bersama terik mentari Aku, akan menjaganya untuk tetap di dalam cekungan telaga beningnya, menanti dalam tenang Menantimu, wahai Diajeng, jantung hatiku! Duh, maafkan aku, tiba-tiba menjadi gagu seperti ini Hingga terbata-bata mengeja namamu dalam setiap ujung kata

Diajeng, Diajeng, Diajeng! Semoga, ruh hatimu, tiada terguncang oleh sangkakala yang tertiup oleh hembusan napas cinta ini Tenang dan damailah, Diajeng! Hingga ujung waktu menjemputmu untuk dihadirkan dalam pertapaan suciku

Menyatukan kita dalam ikatan cinta suci Halal dan dirahmati, sepanjang waktu! Diajeng, aku kehabisan kata-kata, bahkan saat gejolak di dalam dada ini masih belum juga reda Apa yang harus kusuratkan lagi? Jujur, aku bisu! Hanya ini, yang lahir dari ujung penaku, I love you, Diajeng!

Love, Kangmas dalam buncah rindu Yang menjadikannya gagu

Wassalamu'alaykum, Diajeng

Leiden, 20 Juli 2015

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Dear Diajeng,"