Bismillaah
Kado Cinta Kado Lebaran Story by Sakura Sizuoka
Lontar pun kian mengering, menyematkan roncean kata yang kuukirkan semakin rekat. Semua ... Tentang Mas Dosen dan aku.
Azzam untuk membangun Surga Kecil, mimpi untuk menegakkan syariat Islam bersama, membangun media dakwah yang teguh dan kokoh, membangun Rumah Sehat Islam yang di dalamnya akan kami adakan perpustakaan Islam dan program tahfidz bagi keluarga pasien ... Bersama berjuang untuk Islam. Mimpi-mimpi yang indah bukan? Belum lagi, cita-cita kami untuk menulis novel berdua. Kami akan mengambil genre religi dan semua royalti akan kami gunakan untuk jalan dakwah. Luar biasa istimewa bagiku. Karena, semua tertuang secara jelas dalam lembaran hari-hari kami. Tertulis nyata! Namun, akan kah semua menjadi nyata? Membawaku terbang melesat meninggalkan lembah sunyi bernama penantian panjang? Kesabaranku ... Teguhkanlah, aku pada-Mu, Allaah hanya pada-Mu kupancangkan segala yang ada dan terjadi di antara kami. Engkau-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya, hanya Engkau, Rabb. Semoga, benang-benang kesalah pahaman ini segera tergulung rapi. Semoga Engkau memberikan kemudahan dan kekuatan, jalan terbaik untuk selesainya masalah ini. Aamiin.
***
"Naura, ada ikhwan mau ketemu. Mau ada perlu sama kamu. Sama kita," suara Ummi mengagetkanku. Mendaratkanku pada lembar kenyataan. Ada yang mau ketemu? Siapa? Mas Dosen? Ah! Kenapa aku masih saja mengharapkan kehadirannya? Kenapa aku masih saja menunggunya menepati semua yang dijanjikannya? Kenapa aku seperti ini? Tidak mungkin. Mas Dosen tidak mungkin datang. Ia, telah merelakanku dibawa pergi oleh masa. Entahlah!
"Iya, Naura. Kita temui dulu ya? Kasihan datang dari jauh," Ummi, mendorong kursi rodaku perlahan, menuju teras depan. Dari jauh? Siapa? Tadi Ummi bilang mau ada perlu. Perlu apa? Ya Allaah, kenapa jadi begini ya? Perasaanku tidak enak. Maksudku, semakin tidak enak! Jujur, aku tak menginginkan ikhwan mana pun datang, terlebih jika tujuannya untuk mengkhitbahku. Bagiku, menanti Mas Dosen dalam sunyi yang membuatku merintih perih itu, sensasi perjuangan yang luar biasa! Posisi Mas Dosen di hatiku, takkan pernah berubah seinchi pun. Takkan ada yang bisa menggantikannya. Kecuali maut yang memisahkan. Biarlah Mas Dosen seperti ini, tapi cintaku padanya sudah terlanjur menghunjam di kedalaman kalbu. Biarlah ia bersamayam damai di sana. Damai? Apa benar ia damai? Ah, entahlah!
***
Sore yang indah. Kupandangi sejenak lengkungan langit biru di angkasa. Kekapas putih bergumpal-gumpal membentuk aneka rupa. Berarak perlahan saling menyaput satu sama lain. Masya Allaah. Indah! Ikhwan itu berdiri tegak menghadap ke depan, entah ap yang tengah diperhatikannya. Melihat daari cara berpakaiannya--mengenakan sarung kotak-kotak merah hitam dan baju koko lengkap dengan kopyah hitam--ikhwan ini santri. Ia, masih saja berdiri, menyedekapkan kedua tangannya. Mungkin, belum menyadari kedatangan kami.
"Assalamu'alaykum, Nak. Ini, Naura," Ummi menyapanya duluan. Suaranya, aku sepertinya kenal suara itu. Waktu menjawab salam tadi, suaranya sama persis ... Mas Dosen? Aaah, tidak mungkin. Ini hanya secuil mimpiku di sore hari. Mas Dosen sudah benar-benar pergi, bahkan tak sudi lagi berkomunikasi denganku. Sejak itu. Maksudku, sejak debu-debu kesalah pahaman itu mengaburkan pemikiran kami. Menempel begitu tebal, sehingga Mas Dosen memutuskan untuk mendiamkanku? Tapi, itulah kenyataan yang ada. Diam dan mengacuhkanku.
"Ummi," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Aku menunduk. Diam. "Mari, Nak. Silakan duduk," jangan Ummi. Aku pingin orang ini segera pergi! Aku tak mau ketemu siapa pun dalam hidup ini kecuali Mas Dosen. Mas Dosen? Suaranya ...? Hatiku berkecamuk. Sepertinya, badai tornado tersesat di sana. Menggulung-gulung semua rasa!
***
Kami masih duduk berhadapan. Mas Dosen sudah menyampaikan semuanya. Sejujur-jujurnya, apa adanya.
"Dik, maafkan Mas. Mas diam, bukan karena Mas nggak cinta. Mas diam, justru karena sangat mencintaimu, Fillaah. Mas ingin menjagamu, Dik. Membahagiakanmu. Dan seperti yang Mas sampaikan tadi, hari ini, Mas ingin mengkhitbahmu. Apakah kamu bersedia menjadi makmum Mas, Dik?" Angin rindu mendesau merdu. Tanya apa Mas Dosen barusan? Menjadi makmumnya? Artinya apa? Uuuh, kenap otakku tiba-tiba tumpul begini? Bahkan, saat Allaah benar-benar dihadirkan Allaah secara nyata untuk mewujudkan azzam hati dan semua mimpi kami? Oh, mungkin maksudnya makmum itu istri? Uuuh, aku benar-benar lola.
"Ya, kalau Ummi sih tergantung Naura saja. Kan, yang mau menjalani Naura. Tapi, Nak Azmi bisa menerima Naura apa adanya seperti ini kan? Maksud Ummi, Naura kan harus dibantu kursi roda. Apa ndak merepotkan Nak Azmi nanti?" Ummi, terima kasih, sudah mewakili tanya hatiku selama ini. Dan sungguh, aku ingin segera tahu jawabannya. Apa yang akan Mas Dosen katakan? Apakah tetap akan mengkhitbahku? Atau ... Mundur, dan menemukan cinta yang lain? Cinta yang lain? Aaah, aku memang benar-benar lola. Untuk apa Mas Dosen jauh-jauh datang ke sini, untuk ta'aruf dan mengkhitbahku, jika ada wanita lain di hatinya? Aku baru sadar, siapa saja bisa terserang virus otak tumpul dan lola, jika berada dalam situasi yang rumit seperti ini. Maksudku rumit, ketika semua mimpi, membukakan pintu gerbang kenyataan!
"Dik?" "Ya, Mas." "Jadi, gimana?" "Emmm," "Emmm?" Laaah, maaf Mas. Membuat Mas jadi bingung begini. Aku kenapa sih, jadi gagu seperti ini? Bukannya selama ini, detik-detik kuhabiskan hanya untuk menunggu Mas Dosen? Bukankah setiap waktu berdoa memohon kepada Allaah untuk dipertemukan dengannya? "Naura, jawab yang jelas ya? Kasihan Nak azmi. Kamu bersedia nggak?" Ummi membantunya menanyaiku. Laaah, aku kok jadi seperti anak TK? Kurasa, mengangguk adalah jawaban yang paling pas!
The End
Belum ada tanggapan untuk "Kado Cinta, Kado Lebaran"
Posting Komentar