Serial: Jannah Family

Bismillaah

---Puri Ngambek---

Yaaah, Mas nakal! Bowwwong! Sukanya, kalau janji tidak ditepati. Sukanyaaa lupaaa! Teruuus, kalau tidak lupaaa, tidak sempat! Ummmm, hikaaa.

Puri uring-uringan sendiri di kamar. Matanya sembab. Wajah pucatnya bersemu merah muda. Wajah Indo yang terlihat lebih ayu. Baru saja, Puri muntah-muntah hebat di kamar mandi. Ini, biasa terjadi setiap Tsun sudah berangkat ke kantor sampai sekitar waktu 'Ashar. Mual, muntah dan sakit kepala yang kalau Puri membahasakannya cenat-cenut pinat kokonat, daan tentu saja itu membuatnya sangat tidak nyaman.

Namun, semenjak tahu kalau dirinya tengah mengandung Anak Cinta mereka, Puri bisa lebih sabar dan kuat menghadapi semua itu. Setidaknya, kalaupun menangis dan merintih, tidak sampai menyusahkan Tsun. Hehe. Begitu juga, saat di sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyaman, Puri lebih banyak muraja'ah atau menulis di diary-nya. Yaaah, sikap sabar dan kuat itu, kelak akan diwariskannya kepada Anak Cinta mereka. Itu keinginan hatinya. Cita-citanya. Makanya, Puri lebih banyak belajar dan memotivasi dirinya sendiri untuk bersikap dewasa, bijaksana, sabar dan kuat!

Namun, Puri tetaplah Puri. Wanita berusia delapan belas tahun yang berkarakter manja dan kekanakan. Ini tadi, sudah beberapa hari ini tepatnya, Puri ngambek! Bagaimana tidak? Tempo hari, dirinya mengajak Tsun makan malam di luar dan Tsun mengiyakan. Bahkan, sudah berjanji Malam Senin tadi malam itu, akan mengajak Puri makan malam di Steak And shake, restoran favorit Puri. Tapi, yaaah, namanya juga sibuk berjuang mencari nafkah, Tsun kelupaan lagi. Sepulang liqa', Tsun malah langsung tidur, padahal baru sekitar jam delapan, artinya restoran itu masih buka.

Puri yang sudah kepingin banget makan tanderloin, benar-benar kecewa. Liurnya terasa menetes-netes, setiap ingat makanan itu. Bayangannya, dipenuhi tanderloin, tanderloin, tanderloin! Sampai benar-benar memuncak keinginannya! Ooh, tentu itu wajar. Sanagat! Karena hormon kehamilannya sedang tinggi-tingginya. Jadi, tubuh memerlukan asupan makanan yang dirasa baik untuk pertumbuhan dan pekembangan janin.

Puri berusaha bersabar! Merebahkan tubuh lemasnya di samping Tsun. Namun, jengkel, kecewa dan sedikit sedih menggelayuti benaknya. Akhirnya, tangisnya pun pecah. Terisak, dibalikkan badannnya memberlakangi Tsun dan mendekap guling buculnya. Puri menangis tersedu. Keinginannya mmebuat special moment bersama Tsun berantakan.

-Puri ingin, saat makan malam di Steak dan Shake itu, memberi tahu Tsun kalau dalam rahim sucinya tengah bersemayam Anak Cinta mereka

-Memberikan kado paling spesial untuk Tsun, Test Pack dengan dua strip yang sudah dibungkusnya rapi dengan kertas kado dan diikat dengan pita merah tulip. So sweet bukan?

-Puri ingin, menikmati moment itu dengan suasana berbeda ....

***

Dengan masih terisak, Puri menekan nomer telepon Tsun. Diabaikannya cenat-cenut pinat kokonat-nya itu, ditahannya rasa mual yang mengaduk-aduk seisi perut. Jam dua belas, artinya Mas sedang istirahat. Batinnya.

"Iya, Dik. Wa'alaikumussalam. Ya, Dik? Napa?" Tuuuh, kan! Lupa beneran. Padahal kan sudah dari kemarin mau itu.

"Maaas, gituuuh! Nakal!" Iiih, jengkeeel! Mas gitu. Ummm, memangnya pekerjaan di kantor ituuu siiibuuuk full ya? Sampai keluar sebentar saja tidak bisa? Izin sebentar, masa tidak boleh siiih? Iiih, menyebalkan!

"Lhooo? Nakal napa, Dik? Kamu baik-baik saja, kan? Iyaaah, nanti Mas pulang cepet," whaaat? Pulang cepet? Laaah, Maaaas. Bukan itu maksud Puri. Puri tuuuh ....

"Hemmmm," ya sudahlah!

"Dik? Halo? Haaalooo? Dik? Emmm, ya udah dulu ya? Mas lagi ngolah data nih. Nanti Mas usahain pulang cepet deh. Okeee, Dik? Yuk, assalamu'alaikum, Shalihahnya Mas." Klek. Tut, tut, tut. Yeee, gituuuu. Main tutup saja! Iiih, Mas gituuuh. Hikaaa.

Puri sedih! Bayangan tanderloin itu menggodai dirinya. Begitu pula Special Moment itu. Aaah, Maaas. Kapan? Kan, pekan depan Puri sudah harus pulang ke Belanda. Hikaaa.

***

Tsun bergegas mengucap salam. Mengetuk pintu dengan perasaan bahagia! Di tangannya, ada tanderloin dan tuna steak, untuk mereka makan malam. Tadi, dia lewat di depan restoran itu dan teringat janjinya pada Puri. Bidadari Surganya. Membayangkan wajah Puri yang ceria menyambutnya, membuat Tsun tersenyum-senyum sendiri.

"'Alaykumussalam," Puri cuek bebek mandi di kali. Membukakan pintu, mencium punggung tangan Tsun dan langsung masuk ke kamar lagi. Tsun terkejut! Ha? Ada apa? Hemmmm, kan aku ndak telat pulang? Lebih awal malah. Dengan bingung, Tsun menyusul Puri.

"Dik, kenapa? Makan yuk? Itu Mas beliin tanderloin. Kamu suka kan?" Puri bergeming. Ha? Mas membelikanku tanderlon? Bagaimana Mas bisa tahu kalau aku ...?

"Emoooh, Maaas. Puri ngantuuuk, mau boboook," rajuknya, sambil menggelung dirinya dalam selimut kesayangan. Selimut Tulip.

"Yaaah, kok emoooh, Dik? Oh yaaa, kita ke dokternya sekarang aja yuk, Dik? Habis makan? Mas takut kamu kenapa-napa. Yaaa?" Dihadiahi kecupan mesra itu amazing! Hihi. Apalagi tadi waktu membukakan pintu, belum dapat kecupan sakral itu. Kan, tadi ngambek. Jadi, langsung masuk kamar sebelum Tsun mengecup kecingnya.

"Dik," Tsun merangkulnya dari belakang; "Mas minta maaf ya? Tidak bisa menemanimu sepanjang waktu. Mas ngerti, kamu banyak membutuhkan Mas. Tapi, Dik, berjuang mencari nafkah itu kewajiban Mas. Bukan hanya kewajiban, Dik. Itu semua, tanda cinta Mas untuk kamu. Untuk anak-anak kita nanti. Kamu ikhlas kan, Dik, dengan pekerjaan Mas yang seperti ini?" Jauh di lubuk hatinya, Tsun tidak tega menuturkan semua itu. Tapi, dia ingat, mendidik Puri adalah tanda cintanya di hadapan Allaah. Perlahan disibaknya anak-anak rambut Puri yang menutupi wajah ayu Bidadari Surga-nya itu.

Yaa Allaah. Pucat sekali wajah Puri. Tirus sekali. Jangan-jangan, Puri benar-benar tengah mengandung Anak Cinta-ku? Anak Cinta kami, yaa Allaah? Apalagi, sepertinya, Puri terlambat datang bulan. Biasanya kan, tanggal tujuh belas. Sekarang, eng, sudah tanggal dua puluh delapan. Em, Allaahu Akbar. Hatinya berdebar-debar, mendapati keadaan Puri. Diciuminya lembut kelopak mata puri yang terpejam. Perlahan, Puri membuka mata sipitnya. Samudera bening, terhampar di hadapan Tsun. Puri membalikkan badan, mendekap Tsun dan tangisnya pun tumpah ruah.

Dalam dekapan Tsun, diluahkannya semua yang dirasa. Kekesalannya, kekecewaan, dan semuanya. Semua! Tak ada yang tersisa.

Tiga puluh menit berlalu. Isak tangisnya masih belum berhenti. Dengan telaten dan sabar, Tsun mengusap-usap punggung Puri. Menenangkannya degan membacakan Ayat-ayat Allaah. Tsun yakin, Puri hanya membutuhkan waktu untuk mendewasakan dirinya. Atau, kalau memang benar Puri hamil, itu wajar. Wanita hamil, jauh lebih lembut dan sensitif perasaannya.

"Maaas, maafkan Puri, Mas. Puri ikhlas kok dengan semua yang ada pada Mas. Puri ikhlas, Mas," terbata, di tengah isak tangisnya, Puri tabayyun.

Hueeek, hueeek, hueeek!

Tak salah lagi! Benak Tsun semakin yakin, Puri tengah mengandung Anak Cinta mereka. Bahagia dan haru menyelimuti hatinya. Yaa Allaah, sanggup kah aku berjauhan dengannya dan Anak Cinta kami? Sanggup kah aku melepaskan kepulangan Puri ke Belandan dalam keadaan seperti ini?

"Iyaaah, Mas ngerti kok, Dik. Kan, Shalihahnya Mas. Iyaaa, kaaan? Sini, Mas lap mukanya. Pake tisu basah, Dik? Atau washlap anget?"

Hueeek, hueeek, hueeek!

Puri lemas. Tubuhnya gemetar. Dicengkeramnya lengan Tsun, sementara Tsun sibuk membersihkan muntahannya. Banyak sekali dan itu membuatnya bahagia!

***

Akhirnya, Puri hanya bisa bersandar di kepala tempat tidur. Badannya lemas sekali.

"Sayang, Dik, tanderloinnya. Maem yuk, sedikit? Besok, pagi-pagi Mas ajak kamu ke Dokter. Cuman deket kok. Kalo sekarang udah tutup, Dik. Mas suapain ya?" Dengan cekatan Tsun menyuapkan potongan-potongan lembut dan gurih tanderloin.

"Enak kan, Dik? Besok, mas beliin lagi," yaaah, apa pun akan Mas beliin, Dik. Semampu Mas. Untukmu, dan untuknya. Anak Cinta kita. Mas yakin, kamu tengah mengandung Anak Cinta kita, Dik. Bismillaah.

Namanya juga mual, baru sekian suap dan acar muntah mesra itu pun berlangsung seru!

"Maaas, sudah aja, Mas. Puri muaaal. Buat Mas aja ya? Puri mau bobok duluan ya, Maaas?"

"Beneran niiih, udah ndak ngambek sama Mas?"

Puri menggeleng, sembari tersenyum manis. Biar pun pucat pasi, senyumnya tetap manis kok.

"Makasih, Dik. Mas minta maaf ya?"

Berpelukan dua insan, dalam dekapan asmara. Saling memaafkan, saling memberi dan menerima. Saling mencinta. Merenda mimpi bersama.

Dibantunya Puri merebahkan tubuhnya. Menutupkan selimut hingga ke leher dan mengecupkan cinta di keningnya. Selamat tidur, Bidadari Surga! Janji yaaa, jangan ngambek lagi! Ngaaak naaahaaan dicuekin!

---#---

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Serial: Jannah Family"

Posting Komentar