Bismillaah
"Wahai, Anak-anak Kehidupan, dengarkanlah Dengan pendengaran jiwamu Roncean kata yang akan ibumu bacakan ini Semoga menjadikanmu mengerti, apa itu hidup Dan kehidupan Apa itu mati Dan kematian Dan semoga, Allaah memahamkanmu Tentang laku dan lakon dalam hidup ini Maka itulah sejatinya hidup," Ustadzah berdiri anggun dan berwibawa di atas mimbar, suaranya yang lembut penuh kasih, menghipnotis semua yang hadir dalam halaqah itu. Pun aku. Diriku, hamba yang penuh dengan kedhaifan dan kefaqiran ini.
Semua diam, semua terhanyut! Terseret dalam pusaran penyesalan Tenggelam, di kedalaman palung Permohonan maaf dan ampunan Atas segala dosa Atas segala salah dan hilaf
Aku tergugu Bisu! Mendekap erat Mushaf Qur'an peninggalan Papa Aku ... Lenyap!
"Anak-anakku, Anak-anak Kehidupan. Ketahuilah, tak ada satu makhluk pun yang Allaah takdirkan menjadi sempurna. Oleh karenanya, Allaah menjadikan kita memiliki sifat saling membutuhkan. Saling membantu dan bekerja sama. Ingat, saling membatu dan bekerja samalah kalian dengan kebaikan dan kesabaran! Hanya itu! Dan jangan saling membantu dan bekerja sama dalam kemungkaran dan kemaksiatan!" Deg! Kami saling memandang. Menatap dalam. Aku, mataku bertabrakan dengan mata Alexandra. Lalu, menunduk lagi. Seolah, masing-masing kami saling berbisik, "Oooh, maafkan aku ...," sunyi. Hanya suara batuk-batuk Ustadzah terdengar sakit.
"Lalu, Anak-anakku, Anak-anak Kehidupan. Jagalah diri kalian dari lima perkara:
-Ghibah -Mencela -Mengolok-olok -Namimah (Adu domba) -Hasut -Fitnah
Sungguh, lima perkara itulah yang akan menggiring kalian menuju neraka dan murka Allaah. Terlebih, jika kalian tidak:
-Menutup aurat -Menegakkan Syiar Islam -Menjaga Ukhuwah Islamiyah
Dan, jika kalian:
-Tabarruj -Ikhtilath -Khulwat -Memakai wangi-wangian -Berlebihan dalam bersuara -Berlebihan dalam gerak tubuh -Tidak pandai mengelola dzan (prasangka)
Kalian mengerti, Anak-anakku? Anak-anak Kehidupan?"
Bismillaah. Kami saling memeluk. Saling memaafkan.
"Ibumu akan menambahkan satu hal. Pegang ini dengan genggaman erat kalian!
Hanya yang tak pernah berbuat dosa yang boleh mencela.
Artinya, janganlah suka membuka aib saudara kalian. Seperti kalian menutupi aib kalian sendiri!"
Jleb! Kami bergeming. Diam, terbungkam. Halaqah yang penuh ibrah. Alhamdulillaah.
Belum ada tanggapan untuk "Hanya Yang Tak Pernah Berbuat Dosa Yang Boleh Mencela"
Posting Komentar