Bongkahan Sesal

Bimsillaah

Bongkahan Sesal A story by Sakura Sizuoka

Aku tergugu. Mas Hasta masih menangis tersedu di atas pusara Ayah. Yaa Allaah, apa yang ada di dalam benak Mas Hasta? Maksudku, mengapa setiap menziarahi kubur Ayah, tangisnya selalu menderai pilu? Seolah, ada hal besar yang disimpannya. Kucoba untuk menenangkan Mas Hasta. Mengusap-usap bahunya, mesra. Seperti yang biasa kulakukan saat Mas hasta dalam kesedihan atau kesulitan.

Galih yang sedari tadi terlelap dalam gendonganku, tiba-tiba terjaga. Tangisnya pecah. Oh, mungkin, Galih kepanasan. Aku mengajaknya berteduh di bawah pohon kamboja besar yang ada di jalan masuk pemakaman.

"Sssttt, Sayang. Sebentar ya, Shalihah? Abi belum selesai mendoakan Eyang. Cup, cup, cuuup. Sini, Ummi peluuuk," tapi, Galih tak juga bisa kutenangkan. Mas Hasta masih tersedu. Ya Allaah, apa yang harus kulakukan? Galih pasti kehausan dan aku tidak mungkin menyusuinya di sini.

"Maaas, Galih haus. Kasihan, Mas," sedih rasanya. Mas Hasta seolah tak mendengarku. Oh, mungkin karena angin sedikit kencang. Jadi menerbangkan suaraku. Kupanggil sekali lagi dan berhasil.

Mas Hasta menghampiri kami, sementara Galih semakin keras menangisnya. Aku gelisah. Selama ini, Galih belum pernah menangis seperti ini. Yaa Allaah, lindungilah Galih. Lindungilah kami. Aamiin.

Plaaak, plaaak, plaaak!

Tiba-tiba, Mas Hasta menampari pipiku. Bukan hanya kaget dan sakit. Rasanya perih sekali. Lahir dan batin! Apa salahku? Apakah mengajak pulang itu sebuah kesalahan? Atau, apakah Galih menangis kepanasan, kehausan itu salah? Galih hanya bayi berumur tiga bulan!

"Maaas?" Aku menangis sejadi-jadinya. Kudekap erat Galih sambil berjalan menuju mobil. Saaakiiit, menggigiti hatiku. Kenapa Mas Hasta melakukan ini? Yaa Allaah, ampuni Mas Hasta. Aamiin.

"Dik, tunggu, Dik. Maafkan aku, Dik." Mas Hasta menyusulku. Aku tak peduli. Bagiku, Galih jauh lebih penting dari semua hal yang ada di dunia ini. Kuabaikan sakit dan perih ini, demi Galih.

To be continued

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bongkahan Sesal"

Posting Komentar