Winter tahun lalu ....
Kamu masih di sini. Di kota kecil yang mengukir banyak kisah. Antara kamu dan aku. Zain, kamu sahabat yang baik. I know it. Mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara berjalan di atas es agar tidak terjatuh. Mengajakku ke perpustakaan anak-anak setiap Jum'at dan ke Kinder Burderij, setiap Sabtu. Nice weekend bersamamu. Entah karen kamu pandai mmebuatku dengan denganmu atau karena aku memang ingin selalu bersamamu, yang jelas Mama dan Papa tidak melarang kita untuk mengadakan cara bersama.
Aku masih ingat, Zain. Kamu membelikanku kerudung mungil dari Maroko. Waktu itu, kamu pulang ke sana, menengok Oma yang sedang sakit. Kerudung merah itu langsung menjadi kerudung kesayanganku. Hampir setiap hari aku memakianya ke sekolah. Sampai teman-teman-teman memanggilku dengan sebutan Si Kerudung Merah. Ah, no matter, Zain! Aku suka kerudung pemberianmu.
Kerudung itu, aku dapatkan waktu Mama dan Papa merayakan ulang tahunku yang kedepalan, di rumah. Itu, acara private. Mama hanya mengundang teman-teman dekatku. Termasuk kamu. Zain, tidak tahu harus dengan kalimat apa aku menggambarkan kebahagiaanku saat itu.
Banyak faktor yang membuat kita dekat, Zain. Kamu, Kakak Kelasku di sekolah. Rumah yang bersebelahan membuat kita berangkat dan pulang bersama. Waktu aku masih belum terampil bersepeda sendiri, kamu rela menemaniku jalan kaki ke sekolah dan menuntun sepedamu. Hihi. Semua, karena sepadmu tak ada boncengannya, Zain. Kamu, juga selalu menungguku di bawah pohon apel besar di depan sekolah setiap pulang.
Sambil berjalan pulang, kamu banyak menceritakan tantang empat musim yang ada di Negeri kincir Angin ini, tempat-tempat wisata dan perpustakaan anak-anak. Aaah, tentang pantai, museum dan taman bermain! Kau tahhu, Zain, aku suuukaaa!
Hekekeke. Terpaksa aku tertawa ... Ingat, bagaimana kamu malu-malu meminta izin Mama untuk mengajakku jalan-jalan di Kooper Molen. Kamu ingin membelikaknku cokelat dan setelah itu kita akan memberi makan waterkip dengan roti kering. Hakakaka. Kamu takut yaaa Zain, kalau Mama tidak mengizinkan?
Di sepanjang kanal itu, kamu diam. Tak banyak seperti biasanya. Mengajakku memarkir sepeda dan duduk di jembatan kecil di sana. Hihi. Kantong jaketku sudah penuh dengan cokelat pemberianmu. Dan apple juice kesukaanku.
Akhirnya, kuurungkan untuk memakan cokelatku. Sedih, melihatmu begini. Jujur, perasaanku tidak enak, Zain.
Aku terhenyak! Air matamu nyaris merembes. Jadi, kamu mengajakku ke sini, hanya untuk mengatakaan ini ...? Sungguh, tak bisa kutahan air mataku!
Hatiku dilanda Tsunami. Nooo! Is it true, Zain?
Kamu bercerita banyak. Harus mengikut orang tuamu pindah ke Maroko. Dan, harus berangkat tiga hari. Dan harus, harus, harus ... Banyak harus lainnya!
Yang pasti, aku harus menangis, Zain. Aku memang gadis kecil yang berumur sepuluh tahun, tapi aku tahu, perpisahan itu menyakitkan! Menyedihkan. Oh, zaiiin ...!
Desau angin membuat kerudung merahku melambai-lambai. Aku mulai sedikit sering merapikan bagian depannya. Dan merapikan suasana hatiku.
Sebelum meninggalkan jembatan kecil itu, kamu memberikan kotak kecil berhiaskan kain sulam dan pita padaku. Dengan tangan gemetar aku membukanya. Kaluuung ....
"Zain," "Nohara, that's for you. I'm so sorry. I can't give you anything else ...." "Zain, thanks," "Pleaaaseee, take care of it ya, Nohara?"
Aku hnaya bisa mengangguk. Sepi, hanya suara tangisku yang terdengar di antara waterkip yang sibuk memakan roti yang kita taburkan di kanal tadi.
Salju membersamai langkah kita. Sengaja menuntun sepeda sampai ke rumah. Agar lebih lama bersamamu. Lembut, putih dan indah. Kulihat mantelmu dipenuhinya. Kamu menertawakanku, katamu mantelku mirip gunung salju.
Finish. Kisah kita sudah usai, Zain. Kamu sudah terbang ke Maroko. Dan berdua di kanal kemarin itu, waktu terakhir bagi kita untuk bertemu. Jujur, tak sanggup menemuimu saat kamu sekeluarga berpamitan ke rumah. Aku di kamar, menangisimu, zain. Mendoakan yang terbaik untukmu. Sahabatku, doaku menyertaimu selalu ....
Leiden, 25 Januari 2008
Belum ada tanggapan untuk "Zain,"
Posting Komentar