Serial: Jannah Family

Bismillaah

---Kado Yang Terlewatkan---

01.00 WIB. Puri baru saja terlelap dalam dekap kasih Tsun. Bukan karena sengaja tidur dini hari begini. Seperti biasa, Puri dan Tsun harus melewati tantangan dulu sebelum tidur. Eh. Jangan dibayangkan yang seram-seram loooh! Sejak usai makan malam tadi, Puri mual dan muntah berkali-kali. Jadi, Tsun harus bersabar hati dan dengan tenang merawat Puri.

Baru setelah lewat tengah malam, tantangan itu usai. Lega rasanya, mendapati Puri yang sudah terlelap damai. Dikecupkannya restu dan kasih di keningnya, perlahan dan lembut. Kini, Tsun masih duduk di tepian tempat tidur. Memandangi wajah ayu Bidadari Surganya itu penuh sayang. Lama dan dalam.

Diratakan pandangannya ke sekujur tubuh Puri. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang. Pandangannya terhenti di sana. Perut Puri. Tidak tahu kenapa, ia ingin sekali mengusap-usapnya. Menciuminya lembut penuh kasih, seperti saat mengecupi kening dan pipi Puri.

Dengan sangat hati-hati, Tsun meletakkan telapak tangan kananya di atas perut puri. Hatinya berdebar-debar syahdu. Pikirannya bergumul, ada pergulatan di sana. Antara keyakinan hati, kesimpulan dan dugaan: Puri tengah mengandung Anak Cinta mereka.

"Maaas," tiba-tiba Puri terbangun. Tsun mengangkat tangannya perlahan dan mengusap lembut dahi Puri.

"Ya, Dik? Pusing lagi? Mual?" Jangan ya, Dik? Tidur ya? Janji, besok kita ke Dokter Kandungan. Mas akan minta izin berangkat agak siang ke kantor. Maaf, tadi pagi itu Mas buru-buru.

"Mimik, Mas." Puri berucap manja. Hehe. Senaaang hati Tsun melihat kemanjaan Puri. Itu artnya, Puri baik-baik saja

"Ya, mimik. Tea hangat ya, Dik? Mas buatin sebentar." Dengan senang hati, Bidadari Surga-nya, Mas. Tunggu sebentar ya? Bisik hati Tsun, smebari beranjak menuju dapur.

"Tidak mau, Mas. Puri maunya es cendol. Itu loooh, Mas. Di tempatnya Bapak itu. Kan ada yang jualan Dawet Ayu," ha? Itu? Jauuuh, Dik. Di kampung. Hemmm. Tsun bergeming. Bingung harus mengatakan apa. Harus bagaimana. Memang harus itu ya? Em. Yang di sana?

"Loooh, Dik. Ya ndak bisa sekarang kalo gitu. Mimik yang ada dulu ya? Besok kita ke sana, sekalian nengokin Bapak. Ya, Dik?" Tsun memohon. Digenggamnya jemari Puri, lembut. Semoga, Allaah menyabarkan hatinya. Itu harapan Tsun.

"Hikaaa. Mas gituuuh, Puri maunya sekarang. Hik hik hik," yaaah, hik lagi. Hikaaa lagi! Hemmm. Bagaimana Mas bisa membelikannya sekarang, Dik? Ini Jakarta dan rumah Bapak di Gunung Kidul sana. Ya Allaah.

"Iyaaah, sekarang. Ya udah, kamu bobok dulu ya, Dik? Mas beliin."

"Emoooh, maunya dikonin-konin Mas." Ya Allaah. Tadi minta dibelikan, sekarang minta dikonin-konin. Haduuuh. Yaa Allaah. Sabar. Sabar!

"Iyaaah, konin-konin." Tsun kembali merebahkan tubuh lelahnya di samping Puri. Matanya tak kuasa lagi menahan kantuk. Namun, hatinya tak rela meninggalkan Puri terjaga sendirian.

"Makasih, Maaas,"

"Sama-sama, Dik. I love you,"

"Thaaanks, ilepiyu tu, Maaas," haha. Duuuh, semakin mesra saja ya? Dan itu semua karena kesabaran dan keluasan hati Tsun mengahadpi Puri. Semua, karena Tsun mencintai Puri karena Allaah.

"Alhamdulillaah, akhirnya book juga" bisik Tsun, setelah dua puluh lima menit mengusap-usap punggung Puri. Hehe. Itu ritual khusus. Puri tidak akan tidur kalau tidak diusap-usap punggungnya. Hehe.

"Eh, apa itu?" Tsun terkejut. Matanya menabrak benda mungil terselip di antara tumpukan boneka Puri. Benda itu terbungkus kertas kado dan diikat pita merah tulip. Kado? Untuk siapa? Dari siapa?

Penasaran menggulung-gulung hatinya. Dibukanya dengan sangat hati-hati. Takutnya, Puri terbangun lagi. Kasihan. Nanti rewel lagi.

"Subhanallaah, walhamdulillaah, walaailaaha illallaahu Allaahu Akbar ... Aku? Sebentar lagi, aku akan jadi seorang Abi? Allaah, Allaah, Allaah." Digenggamnya erat Test Pack dengan dua strip itu dan beringsut perlahan, turun dari tempat tidur.

Sujudnya begitu syahdu. Begitu mendalam rasa syukur dan bahagia itu! Tsun, berlinang air mata mendapatkan kado paling spesial itu.

Jadi, Puri sudah tahu kalau dia hamil? Jadi, selama ini, Puri menyimpan grand prize ini? Jadi, Puri mengajak makan malam itu untuk ....

"Iyaaa, benar. Tanggalnya sama dengan tanggal Puri mengajak makan malam itu. Yaa Allaah, bodohnya aku! Ampuni kebodohanku ini ya, Allaah. Astaghfirullaahaladhiim," diacanya berkali-kali tanggal yang ditulis Puri di amplop Test pack itu.

Tanggal: 17 Agustus 2015 Pukul: 10.00 WIB Nama: Puri Sekar Kedaton

"Maafkan Mas, Dik. Maafkan Abi, Sayang. Janji, tidak akan membuat kalian sedih lagi. Janji, tidak akan mengecewakan kalian lagi," air mata Tsun belinangan dalam lautan syukur ....

The End

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Serial: Jannah Family"

Posting Komentar