Bismillaah
Pergiku Karena Cinta A story by Sakura Sizuoka
Lima belas tahun sudah aku mendampingimu. Menemanimu dalam suka dan duka. Membesamaimu dalam tangis dan tawa. Aku mengerti, lima belas tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Namun, maafkanlah. Aku harus pergi. Kepergianku, bukan karena tak lagi mencintaimu. Bukan! Apalagi, untuk mencari selain dirimu. Bukan! Tidak sama sekali!
Aku pergi, untuk kebaikan kita. Kita. Semua. Kumohon, kau tidak salah memahami kepergianku ini. Terutama, anak-anak. Tolong, pahamkan kepada mereka, aku menyayangi mereka. Kepergianku, bukan untuk menghapus mereka dari kehidupanku. Hatiku. Bagaimanapun, mereka anak-anak cinta kita, yang terlahir dari rahimku ini. Aku mencintai merekaa, hingga raga tak lagi bernyawa. Pun engkau. Aku mencintaimu ....
***
Kamar ini kecil dan sederhana. Kamar yang sangat akrab denganku. Aromanya, nuansanya. Memelukkan kerinduan di hatiku. Aku tersadar! Jelas, aku tidak sedang di rumah Mas Karno. Ini, emmm, rumah Ibu? Kenapa aku ada di sini? Bagaimana bisa?
"Nok. Oalah, syukur nek wis sadar. Pak ini lho, Si Nok udah sadar. Alhamdulillaah," suara Ibu. Jadi, benar aku di rumah Ibu? Mataku? Ada apa dengan mataku? Kenapa gelap sekali seperti ini? Ya Allaah, apa yang terjadi? Kuraba-raba mataku, tidak ada perban yang menutupinya. Tapi, kenapa aku tak bisa melihat apa-apa. Bahkan, wajah Ibu. Astaghfirullaahaladhiim. Innalillaahi wainna ilaihi raji'uun.
Ibu ...," oh ya Allaah, jadi aku benar-benar tertabrak truk itu? Saat mau ke sini. Tasku? Ya Allah, tasku? Di sana ada Mushaf Qur'an itu, yang dari Kakang.
"Nok, o alah, Nok. Duh. Lha kok dadi ngene to Nok? Ya Allaah," Ibu merangkulku sambil menangis tersedu-sedu. Meratapi musibah yang menimpaku. Hatiku perih. Sungguh! Sangaaat periiih. Bapak masuk dan langsung menghambur merangkulku bersama Ibu. Tangis Bapak pecah dan kamar ini pun penuh dengan tangisan. Pahit. Rasanya sangat pahit tapi, aku harus menelannya.
Tangis ini melinang. Mendengung seperti suara ratusan kumbang. Mengiang-ngiang, membuatku menjadi hilang. Lenyap!
Bapak mengusap-usap kepalaku lembut. Tangisnya sudah berhenti. Tinggal isak yang membuat napasnya naik turun. Terenyuh sekali aku dibuatnya. "Kamu kesrempet truk, Nok. Untung cuma lecet-lecet saja. Alhamdulillaah," Bapak? Aku tidak bisa melihat, Pak. Apakah aku tidak dibawa ke Dokter? Oh, iya, jelas aku tidak bisa menuntut itu.
"Iya, Nok. Untung ada Mas Anto yang menolongmu. Kamu pingsan terus Anto minta tolong truk yang nabrak kamu itu, membawa kamu pulang. Ibu kaget banget, Nok. Tahu-tahu kok begini. Kamu berantem sama Karno? Terus, Karnonya mana? Anak-anakmu?" Duuuh, Ibu. Maafkan aku. Aku yang salah. Tak seharusnya aku pergi dari rumah. Tak seharusnya aku meninggalkan mereka.
"Wis. Sudah, Bu. Biarkan Si Nok istirahat dulu. Jangan banyak ditanya dulu. Sekarang, Bapak minta nomer teleponnya karno, Nok. Biar Bapak hubungi dia. Wong istrine nganti ngene kok ra ngerti!" Oh, Bapak. Tolooong, aku tidak bisa melihat. Aku butaaa! Mas Karno sudah mengusirku. Dia tidak mungkin mau ke sini! Anak-anak juga sudah dipengaruhinya, untuk tidak bersamaku lagi. Tidak mengakuiku sebagai ibu mereka.
"Bu, Pak. Aku, aku eng aku tidak bisa melihat. Maksudku, gelap. Em. Maksudku, aku tidak bisa melihat Bapak dan Ibu." Gugup. Terbata. Namun, aku harus menjelaskannya. Meski sesaat setelahnya Ibu menjerit-jerit histeris dan tentannga berdatangan memenuhi kamarku. Semua menyampaikan turut berduka atas musibah ini.
"Sabar, Mbak. Nanti segera ke dokter aja. Bismillaah," itu suara siapa aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku sangat berterima kasih atas simpatinya.
"Iya, cepet dibawa ke rumah sakit aja. Ben ndang isa digarap!"
"Ho'oh. Sekarang kan peralatan rumah sakit udah canggih. Ndang digawa wae ...,"
Suara-suara itu menggema di ruang hati! Menguatkan jiwaku yang luruh dalam rapuh. Mungkin, karena sudah terlalu sakit dan pahhit, aku justru tidak bisa menangis. Hanya bisa bergeming, menghadapi kenyataan ini. Ada sesal. Ada rutukan, persis kerikil-kerikil kecil dan lancip melempariku. Ada sedih, bergelayut di benakku. Ada juga kecewa. Aaah, semua tumplek blek jadi satu, menjejali ruang batinku.
Puluhan kalimat berawalan kata harusnya, mulai berjajar, seolah pasukan yang berbaris rapi. Satu per satu, mereka mendengungkan penyesalan!
Harusnya, kamu tetap di rumah! Harusnya, kamu tidak bertengkar! Harusnya, kamu tidak egois!
Namun, barisan kalimat itu, tidak mendapatkan tanggapan dariku. Mental! Seperti peluru-peluru plastik yang tumpah dari pistol mainan anak-anak. Berhamburan!
***
"Jadi, Dokter? Saya akan mengalami kebutaan permanen?" Oh, ya Allaah. Kenapa jadi begini? Aku, hanya ingin pergi. Bukan untuk mengkhianati Mas Karno dan anak-anak. Aku, hanya tidak ingin kami bertengkar setiap hari, hanya karena prinsip yang kami pegang selalu berlawanan arah!
"Mbak yang sabar ya? Pasti ada hikmah di balik musibah ini!" Ya, saya tahu, Dokter. Allaah Maha Baik.
"Terima kasih, Dokter. Saya permisi," yaaah, apa pun yang terjadi, aku harus kuat! Harus tegar! Karena, pergi dari rumah adalah pilihanku. Keputusanku. Aku tidak mungkin menelan ludah yang sudah kubuang! Artinya, aku tidak mungkin pulang ke rumah Mas Karno.
To be continued
Belum ada tanggapan untuk "Pergiku Karena Cinta"
Posting Komentar