Bismillaah
Berwasiat Naluriku By Sakura Sizuoka
Salju, Inilah wasiat ruh hati, untuk kuukirkan dalam lontar-lontar setiamu! Perlahan, kereta meninggalkan Amsterdam Saat denting lembut menelisik pendengaran hati ini Membisikkan kesyahduan sekisah senyum bak telaga bening di tengah sauna
Lalu, netra teduhnya mengerlingkan taman surga Pusarannya menyeretku ke dalam sebuah taman bunga, anggun berwibawa Syair indah itu pun terlantun merdu "Anakku, inilah hidup. Jika hidup itu boleh Ustadzah namakan lakon dalam kisah pewayangan. Maka, hanya ada dua pemeran. Sang Dalang dan wayang itu sendiri. Tidakkah Engkau tahu, anakku? Engkaulah wayang. Dimana engkau hanya punya satu pilihan, menerima dan menjalankan peran yang diberikan Sang Dalang kepadamu. Jadi, terimalah! Jalankan peranmu dengan sebaik-baiknya. Perankan semua adegan dengan setulus mungkin, agar engkau menjadi pemeran terkasih bagi Sang Dalang. Anakku, tahukah Engkau, siapakah Sang Dalang itu? Dia, Allah. Allah, Allah, Allah," Menitis rintis lah air suci dalam rahim netra, menggerimis haru, melahirkan aku yang baru, aku yang sadar akan siapa sejatinya diri ini!
Bersyair naluri, sarju dalam sahaja Merestui rahim netra menggerimiskan keinsyafan nyata Memenangkan ruh hati atas tipuan-tipuan fana "Ustadzah, ananda mengerti ...,"
Maka, mohon restu Ustadzah Akan ananda ukirkan janji mati, terpatri di setiap dinding hati Menjulang tinggi, merobohkan panji-panji kenaifan Berjanji, memerankan semua adegan Sang Wayang dengan sempurna dan paripurna, atas ridha-Nya
Leiden, 22 April 2015
Puisi naratif ini, Okino angkat dari kisah nyata Okino hari ini. Betapa perjalanan yang begitu berharga Istimewa!
Belum ada tanggapan untuk "Berwasiat Naluriku"
Posting Komentar