Ra & Kang Adun

Bismillaah

Mereka, sahabatku di facebook.
Serius. Bagaimanapun Allaah pertemukan kami di sana, sekitar sepuluh bulan yang lalu. Awalnya, kami sama-sama bergabung di Kebun kecil. Itu lho, sebuah grup kepenulisan. Dari sanalah, persahabatan terjalin. Alhamdulillaah. Bahagia. Menyadari sebagai sesuatu yang sangat pantas untuk disyukuri. Betapa tidak? Mereka adalah sahabat yang sangat baik. Kami belajar menulis bersama. Saling berbagi ilmu, informasi dan mengoreksi dengan ketulusan yang tak perlu dipertanyakan kualitasnya.

Ra dan Kang Adun.
Begitu aku mengenal mereka. Awalnya, aku canggung sekali. Di antara mereka akulah yang paling awam dalam ilmu kepenulisan. Enol. Tapi, lama kelamaan kecanggungan itu berganti dengan tumbuhnya rasa percaya diri dan keberanian untuk mengirimkan coretan-coretan di grup. Jujur, dalam hal ini, Ra-lah yang paling banyak membantu. Dia banyak mensupportku.

Membagi ilmunya denganku.
Tanda tedeng aling-aling, mengajarkan banyak hal. Bagaimana menulis fiksi, true story sampai cerpen bahkan novel. Keren kan? Dermawan sekali!
Di inbox, Ra memberedel karya-karyaku. Jujur, dari sana aku jadi tahu bagaimana menuliskan tanda baca (dalam hal ini, aku memang dari enol pothol), pola kalimat, bagaimana menemukan diksi yang pas dan masih banyak lagi. Sampai ke unsur cerita dan cara memasukkannya ke dalam cerita-cerita yang sudah kukonsep.

Pokoknya, inbox kami itu isinya ilmu dan ilmu.
Bismillaah, semoga barakah. Aamiin.

Nah, lain halnya dengan Kang Adun.
Orangnya to the point dan tidak suka berbasa-basi. Kalau tulisanku jelek, ya dibilangnya jelek. Kalau bagus, ya dibilangnya bagus. Kalau sama sekali tidak bermutu, ya dibilangnya kaku jelu, pegel linu!
Aku tidak marah, tentu saja. Malah sebaliknya, sangat senang. Jadi, aku tahu seperti apa karyaku. Kan, bisa memperbaiki menjadi karya yang "layak" baca. Meskipun tahu, layak baca itu pun relatif. Tapi, setidaknya dengan karakter belajarnya Kang Idun, aku jadi mengerti dimana letak kekuranganku.

Begitulah, Ra dan Kang Adun di mataku.
Secara natural masuk ke dalam kehidupanku dan menjadi sahabat dekat. Kami mulai bertukar nomer HP. Dari sanalah, akhirnya kami bisa lebih saling mengenal lagi. Saling menelepon, mengirim SMS atau pesan di WA.
Aku sampai lonjak-lonjak waktu Ra menelepon. Senang sekali rasanya! Akhirnya bisa berkomunikasi dunia nyata juga. Bagiku, kalau sudah bertemu di HP itu nyata. Bukan maya lagi. Apalagi sudah dengar suara mereka. Ya Allah, rasanya seperti mendapatkan keluarga baru. Alhamdulillaah.

Minggu berganti, bulan berlalu.
Aku tak tahu, bagaimana terjadinya dan entah siapa yang memulai. Aku sedih sekali. Sebenarnya, dari awal sudah tahu kalau Ra dan Kang Adun itu bidang menulisnya bersebrangan. Ra di fiksi sedangkan Kang Adun di puisi. Jujur, aku tidak tahu apakah fiksi dan puisi itu berlawanan atau tidak. Terbukti, mereka sering ribut saat sedang berdiskusi tentang karya-karya mereka. Pada bidangnya masing-masing, mereka sama-sama handal dan profesional. Jadi, yah, begitulah!

Dari ribut-ribut kecil sampai besar, aku yang menengahi.
Ya harus akulah, siapa lagi? Aku kan tidak mau Ra dan Kang Adun sering ribut gara-gara perbedaan argumen. Aku pinginnya, meskpiun berbeda, mereka bisa seiring sejalan dan saling memahami. Tapi ... Suatu waktu, sesuatu yang selama ini aku takutkan itu pun terjadi.

Sedihku berlipat-lipat!
Ra dan Kang Adun saling mendiamkan. Aku tahu itu, dari chat grup yang kami buat. Ra tidak menyapa Kang Adun dan sebaliknya. Duh. Jadi tidak enak. Harus kah begitu? Apakah mereka tidak ingin berdamai dan menerima perbedaan pemahaman itu? Jadi serba salah juga.

Mau memberikan pendapat, takut salah satu tersinggung. Mau mendamaikan, bagaimana caranya? Pokoknya serba kikuk. Itu berlangsung cukup lama. Berminggu-minggu, sampai akhirnya aku tahu ... Mereka saling mencintai!
Haaa?
Serius nih, aku tahu dari status-status mereka. Baik di facebook maupun di WA.

Ra
-Kau bisa saja bersikap cuek bebek mandi di kali, tapi dalam hati siapa tahu?
-Aku tahu kok, siapa yang kamu maksud dengan Anggrek dalam puisi itu!
-Oooh, jadi kalau kita memang berbeda, kamu mau apa?
-EGP! Kalau cinta ngaku aja!

Kang Adun
-Wanita itu mirip angin pagi hari. Tak ada gerakan tapi dekapannya sampai ke tulang
-Lagian, siapa yang cuek? Aku atau kamu?
-Idih, siapa juga yang cinta? Eh. Sama kan?

Duuuh.
Jantungku merosot sampai ke lutut!
Ini nih kalau sudah menyangkut yang namanya cinta. Puyeng deh!
Eh.
Detailnya aku belum tahu. Baru mau kutanyakan besok,apakah benar ada hubungan spesial di antara mereka. Yaah, semoga aku punya keberanian untuk menayakannya.

The End

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ra & Kang Adun"

Posting Komentar